Merawat Generasi

00.53


                 Diskusi di Mimbar Untan

Saye di undang buda' Lembaga Pers Mahasiswa Mimbar Untan. Lembaga  tempat saye dulo  pernah di sini 50 persen waktunya abis  di sini dari pade kuliah... hingga lulus kuliah 7,5 tahun. Selain belajar nulis, juga urus kritik negare salah satu pusat pergerakan Mahasiswa Kalbar.

Banyak aktives Nasional yang katenya beken  dah jadi pejabat di pusat sering muncol di tevi-tevi dulu semingguan nongrong di markas ini, ngopi-ngopi dan idupin kompor biar Buda-buda kritis teros.



Buda-buda minta saye jadi pemateri ideologi pers mahasiswa untok pembekalan pengurus baru. Pertama saye pesan, Kita'-kita' datang kelembanga ini bukan jadi buruh tinta, bukan buruh mikropon, bukan buruh kamera. Jadi, kalau jadi "buruh" bukan tempatnya.

"Na jadi akteves pers mahasiswa tidak boleh berpisah dengan bace buku dan berdiskusi. Dan berdialektika dengan , kalian bukan di tuntutan  bekarya,".


Sambil saya memperlihatkan karya besar penulis ternama Dibawah Bendera Revolusi di Tulis Soekarno dalam suasana perang, Madilog di tulis Tan Malaka di pelarian, Max Havelar Multatuli, dan  Handbook Teori Sosial.

"Ini..nih buku di tulis oleh pendiri bangsa dalam suasana perang, ide-ide tentang ke Indonesia di tuangkan dalam buku ini,".

Mereka menulis tidak mengenal tempat kerja, tidak mengenal ruang Soekarno, Tan  Malaka, Dowesdeker tetap penulis.
Nah kalian harus begitu, kalau tidak mau dikatakaj buruh tinta. Pesan-pesan kalian hanya segitu saja.

Liat mereka bertiga di atas sudah puluhan tahun meninggal namanya harum di kenang sekarang. Begitulah ideologi pers Mahasiswa.

Yang paling pentin kalian harus kritis dengan keadaan. Jangan kuatir di bully selama fakta, data lengkap, pisau analisa tajam, publik tidak mem bully tulisan kalian.

Untuk membuat tulisan yang baik sekali lagi membaca...membaca...tidak mungkin karya kalian malas baca buku...akan gitu-gitu ja tulisan kalian bahasa Melayunya bujoor ja, tidak ada ruh..tidak rasa dalam tulisannya.

Jangan lupa ikuti perubahan peradaban yang sangat cepat terutama di teknologi informasi termasuk disektor media, biar kalian tidak jadi korban sejarah perubahan peradaban.

Kemampuan Membaca, menulis, berdialektika, kritis itulah dasar ideologi Pers Mahasiwa  (Kritis, Ilmiah,Religius, Independen ) sebagai ruh pergerakan Pers Mahasiswa.

"Kiri Selamanya"

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »