Garuda di Dadaku, Mereka Memang Lebih Ko.

20.14

                                                    Lambang  Burung Garuda

Nongkrong di salah satu cafee di sekitar kawasan Braga, Bandung, Jawa Barat. Bersama teman lama waktu SMA, sekedar rehat dari berbagai daerah, teman-teman juga ikut nibrung. Tadi mau cari warung kopi ala kota Pontianak, tapi kaga saya temui, dah nongronglah sekalian berdikusi ama mereka tentang omongan ringan. Ya, sekitar Indonesia-Malaysia.

“Ngapa ya Indonesia bisa kalah lawan Malaysia dalam sepak bola kemarin?” tanya salah satu temen ke teman-teman.

“Ya bola emank bundar, kalah menang kaga bisa ditebak” jawab kawan yang dari Medan, dengan logat khas Bataknya.

Dia sambil menyeletuk juga di sela-sela diskusi tentang Malaysia dan Indonesia, ”Kenapa ya, kalau di Bandung ada cewe 3, yang cantik 4 orang, tapi kalau di Medan pasti jelek semua?” dia bertanya, kami ketawa semua.

Sambil tersemyum, nah kawanku yang dari Makasar menjawab ”Abes kalau orang Medan, semua yang tidak berkaki ampe berkaki dimakan, kecuali kaki kursi dan kaki Meja.” semuanya tersenyum-senyum dengan banyolan anak Medan dan Makasar.

Tadinya diskusi tentang Malaysia vs Indonesi menjadi kacau. Tapi diskusi dilanjutkan kembali tentang Indonesia vs Malaysia. Dalam suasana yang dingin kota Bandung, tiba-tiba saya kedatangan teman lama yang baru menyelesaikan Post Doktoral di salah satu Universitas di Malaysia.

Saya kenalkan ke teman-teman,”Kawan ini temanku yang baru menyelasaikan post doktoralnya di Malaysia,” saya kenalkan ke teman-teman.

Post Doktoral adalah kuliah lagi setelah menyelesaikan S3 (Doktor), kaga terbayangkan kawan saya yang satu ini memang gila sekolah, sebagian kawan-kawan saya yang ngumpul di cafee ini tidak meluluskan diri dari perkuliahanya, karena anti kemampanan katanya.

”Owh ya, ada di sana kuliah, setelah S3, luar biasa.” kata satu teman, seperti memang University di Indonesia belum ada yang buka jurusan Post Doktoral.

”Abang, emank kuliah di jurusan apa bang di Malaysia, ampe  kuliah Post Doktoral di sono?” tanya kawanku yang berasal dari Medan, sambil menghisap rokok tampa merek.

“Saye ngambil jurusan sosiologi aja dan kayanya di Indonesia kaga ada jurusan ini.” Terangnya.

”Luar biasa abang neh, kuliah Post Doktoral di sono, hebat ya Malaysia.” kata kawanku. tampa sadar kawanku itu menganggap Malaysia negeri yang unggul di sektor pendidikan. Beberapa menit yang lalu dia memaki Malaysia atas kekalahan Indonesia dalam olahraga bola sepak, istilah Malaysia nya. Eh sekarang malah memuji Malaysia.

Kawanku yang dari Makasar pun bercerita tentang kehebatan Malaysia. ”Tau kaga kawan, Iklan yang mendukung AFF yang modelnya istri kipernya Indonesia” tanyanya.

“Kaga tau.” jawab kawan semua yang berada di Café itu.

” Ya itu, perusahaanya Malaysia,  namanya XL, gile kan yang mempromosikan istrinya kiper Indonesia.” kata kawan saya yang dari makasar.

Kami baru sadar bahwa produk yang di iklankan istrinya Markus adalah produk telekomunikasi Malayasia. Luar biasa kalau begitu negeri tetangga kita ini. Tidak istrinya kipper Indonesia di hegemoni dengan produk telekomunikasi Malaysia.

“Kalau bicara uang kaga adalah Garuda di Dadaku, yang ada pulus di dadaku” kata kawan dari Medan.

Saya pun menceritakan kondisi rakyat Indonesia yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia, di sana masyarakat harus mengkomsumsi berita-berita dari  Malaysia dengan 10 Stasiun Radio dan 3 Televisi,  yang sampai ke perbatasan Indonesia. Seperti RTM1, RTM2, RTM3, NET RADIO, KLASIK RADIO, KINABALU RADIO, KL RADIO.

“Sisanya lupa, pokoknya pas saya datang ke perbatasan, warga mengkonsumsi informasi dari 10 radio Malaysia, sementara informasi dari Indonesia hanya di nikmati dari radio komunitas yang jarak dan daya pancarnya terbatas, bahkan teman-teman radio komunitas di perbatasan dikirim surat edaran oleh Menteri Komunikasi dan Informasi harus mengunakan gelombang 107 FM dan daya jarak pancar 2,5 km. Gile kan.” Jelas saya.

“Bego bener Menteri yang buat surat edaran, padahal rakyat mau berjuang, untuk mencounter informasi dari Malaysia. ini malah disuruh diturunkan daya pancarnya” lanjutku.

”Ya bego benar menteri itu, udah kaga membantu rakyat di perbatasan untuk melawan hegemoni informasi negara tetangga, ini malah disuruh turunkan dayanya.” kata kawanku dari Medan.

”Jadi siapa yang punya nasionalis, rakyat atau pejabat negara sampai membuat kebijakan yang konyol.” kata kawan yang dari Makasar.

“Ya, intinya negara tetangga kita, lebih dari pada negeri kita.” kata kawanku yang baru lulusan Post Doktoral.

“Di sana ada empat kawanku pun lagi melanjutkan kuliah Doktor di sana kok, kaga salah kita belajar dari mereka, Garuda tetap di dadaku dan dadamu,” kata kawan saya bijak sambil tersenyum



Share this

Related Posts

Previous
Next Post »