Horor Kebudayaan Ketika Di Politisasi

15.37
Ilustrasi ketika Budaya di Politisir

Setiap momentum politik yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia yang sudah belajar Demokrasi liberal sekitar 20 tahunan, kalau manusia umur segitu sudah Dewasa. Realitas pertarung politik antara berbagai kekuatan besar yang ada di bebagai daerah organisasi budaya dan agama akan bermetamorposis jadi mesin Politik.

Tidak bisa di hindari, dalam perebutan hegemoni, siapa yang menghegemoni dan siapa yang dihegemoni, akan muncul saling intrik.

Dalam merebut kekuasaan akan terjadi pertarungan berbagai kepentingan, termasuk kepentingan yang berbasikan identitas kebudayaan dan agama. Karena dalam merebut kekuasaan biasanya relasi kekuasaan tidak akan bisa lepas dari simbol-simbol kekuatan, individu, kelompok yang akan mengakumulasi pada simbol-simbol kebudayaan kelompok.

Ketika kebudayaan  dan agama diproduksi dan diakumulasi dalam merebut kekuasaan maka akan terjadi keterputusan dengan nilai-nilai yang ada, bahkan akan terjebak pada perangkap vandalisme, sehinga kebudayaan dan agama akan jauh meninggalkan nilai-nilainya.

Namun kebudayaan dan agama menjadi salah satu penghancur dari sebuah peradaban tujuan masyarakat sivil, akibatnya terjadi dehumanisasi dalam kehidupan umat manusia. Dalam merebut kekuasaan perubahan radikal di struktur sosial masyarakat dan mengakumulasi pada simbol-simbol kebudayaan akan terjadi, karena sebuah politisasi nilai-nilai kebudayaan.
Ketika terjadi politisasi nilai-nilai kebudayaan kelompok. Maka akan terjadi putusnya nilai kelompok terhadap akarnya. Sehingga akan muncul sintimen yang berbasiskan identitas, baik yang berbasiskan etnis maupun agama kepada kelompok lain.
 Karena telah terjadi transformasi radikal yang dibangkitkan, akibat bangkitanya sentimen identitas yang berbasiskan etnis yang akan mengkikis struktur sosial pada masyarakat sehingga dapat menyebabkan terjadinya instabilitas sosial.

 Menjalang momentum politi selalu  terjadi transformasi radikal organisasi sosial apada saat menjelang. Organisasi sosial yang katanya berbasiskan budaya dan agama akan menjelma menjadi organisasi politik dan akan dijadikan mesin Politik.
Mereka tidak akan bisa memilihara identitas yang dimiliki masyarakat lagi. Tetapi masyarakat akan muncul dengan identitas politik yang ada. Dengan simbol-simbol kebudayaanya.

Dari sudut pandang ini, kebudayaan akan lepas dari ranah-ranah yang telah ada, karena telah terjadi transformasi radikal, sehingga kebudayaan bisa dianggap sebuah horor oleh oleh kelompok kebudayaan lain. Tetapi sebenar kelompok yang bertarung yang menggunakan sismbol-silbol kebudayaanya untuk merebut kekuasaan itu sah-sah saja.

Namun ketika nilai-nilai yang terkadung dalam kebudayaan diekplotasi hanya demi kekuasaan, maka akan menimbulkan sentimen terhadap nilai kebudayaan lain.
Karena akan ada kekuatan kelompok yang mengendalikan budaya kelompok tersebut, sehingga akan tersebut nilai-nilai yang terdapat dalam kelompok budayan tersebut.

Dan kelompok budaya satu akan dianggap menjadi horor bagi kelompok budaya daya lain dan sebaliknya. Karena mereka dianggap merupakan representative dari kelompoknya.

Ketika kebudayaan kelompok lain diangap menjadi sebuah horor didaerah ataupun diwilayah yang sama maka jangan diharapkan itu akan terbangun sebuah intitas baru ataupun peradaban baru, tetapi akan menghancurkan komunitas lain bahkan bisa menghilangkan indentitas lain.

 Masyarakat yang dibayang-bayangi oleh horor kebudayaan  dan agama lain, tidak akan nyaman dalam kehidupan sehari-harinya. Karena mereka akan selalu menganggap kehidupanya akan selalu terancam dan terteror oleh kelompok lain. Kebudyaanlain dan Agama dianggap sebuah teror bagi komunitasya.

Menjelang  momentum Politik Pemilihan Kepala Daerah saat ini, merupakan ujian penting bagi kita semua . Karena kita mengetahui bahwa perbedaan budaya satu dengan yang lain merupakan tantangan besar dalam menggapai perubahan yang lebih baik di daerah ini apakah perbedaan itu merupakan sebuah kekuatan besar untuk membangung kalbar atau malah sebaliknya.

 Catatan penting yang harus dilakukan dalam menjelang pemilihan pemilihan, bahwa realita politiklah yang membawa pertarungan kekuasaan yang berbasiskan nilai-nilai budaya yang berbeda didaerah ini.

 Namun harapan penting yang harus dilakukan oleh kita semua, terutama oleh pihak yang akan bertarung dalam merebut kekuasaan jadikanlah perbedaan budaya dan agama untuk membangun sebuah kekuatan baru. Bukan meng alinasi(Mengasingkan) budaya dan agama orang lain.

 Karena ini akan menyebabkan horor kebudayaan dan agama. Apabila terjadi horor agama dan kebudayaan terjadi  maka akan terjadi komplik laten yang berbasiskan agama dan budaya. Di diharapkan terjadi pertukaran pandangan nyata antara beberapa nilai kebudayaan dan agama yang berbeda di negeri  ini.

Selanjutnya diharapkan bisa mengawali terciptanya suatu Indonesia yang semakin damai dan adil. Yang jelas keduanya akan berhadapan dengan kekuatan besar kekuasaan, bagaimana mencari jalan untuk membawa kesejahteraan bagi rakyatnya, dengan mencoba berbagi kebijakan yang berpihak pada kelompok miskin  tampa melihat perbedaan kebudayan dan agama yang berbeda satu sama lainya. (Deman)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »