Bertemu Tokoh Literasi

02.04
Deman Huri bersama Martin Serigar Penulis Unconvesional

Thejaman-Minta Endors Novel Biografi dari bapak yang berkacamata ini tidaklah begitu muda. Walau tinggalnya dipedalaman Borneo Beliau teman-temanya banyak Aktives dan pejabat lingkar 1 kekuasaan di ibu Kota. Saya sudah kenal sejak mahasiwa semester awal, dia kerjaan seorang backing spiritual diberbagai gerakan buruh,tani dan Nelayan. 

Dia salah satu yang mampu "meracuni" otak saya untuk mengurus orang termarginalkan di kota-kota hingga ke Desa- desa. Hingga dunia akademis kedodoran hampir DO. Tapi karena petuahnya, kita bisa melihat mengambil sisi lain tentang Dunia dan hidup. Beliau sepertinya lebih memilih hidup yang dikeheningan Alam, jauh hirup pikul dari kekuasaan, seperti kebanyakan kawan-kawan yang sudah berada di level lingkaran 1 kekuasaan dari pemerintah pusat hingga desa.

Hidup di keheningan dunia, jauh dari Kota...Bang martin selalu bergerak menegasah pikiran dengan berbagai tulisan. Terbuktik sudah lima buku Unkonvesional yang sudah diterbitkan. Unik karya-karyanya dia sebut Un-konvesional. 

Karena karyanya tidak seperti karya mainstream(arus utama). Sampai saat ini sudah banyak murid. Apa itu Unkonvesional, sebuah menode menulis dalam melawab rezim SPOK...lebih jelasnya diskusi langsung ja ma bang Martin.

Sayapun menemui beliau pada saat sibuk-sibuk persiapan launching bukunya, pidato kebudayasn dan merberi tausiah pada sepuluh komunitas literasi di Pontianak. Saya tetap memaksanya untuk memberi endors buku terbaru saya yang berjudul CION Mewujudkan Harapan, Sebuah Novel Biografi anak pedalaman yang mampu mewujudkan cita-citanya setelah 30 tahun. Dia sepertinya belum percaya saya yang menulis, karena yang saya mau menulis seorang penginjil. 

Sebagai sepuh tokoh pergerakan, tokoh literasi Bang Martin menyerah juga untuk memberi Endors khusus dalam Novel ini. Setelah saya cerita tentang gerakan kemanusian yang dilakukan bapak Martinus Cion dari mulai pendidik, pluralusme dan gerakan kemanusiaan lain dia baru mau memberi endors. "Satu minggu ya...man...baru saya tulis endoranya,"katanya.

 "Okelah bang...ditunggu endors." Sebagai sepuh tokoh pergerakan, tokoh literasi Bang Martin menyerah juga untuk memberi Endors khusus dalam Novel ini. (Dhg)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »