Belajarlah Kebudayaan Ngan Nenek Datok

15.13

Paret, Canal Tradisional yang dibuat secara tradisional oleh leluhur masyarakat Pontianak
Saya di Undang oleh sebuah Komunitas Pemuda Desa, Untuk ngisi acara dialog pemuda mempertahankan budaya di Didesa.

Walau, Desanya berbantasan dengan Ibu Kote Provinsi Kalimantan Barat, jalanya penuh lumpur dan air. Padahal di Sekitar Desa ada terdapat perusahaan sawit terbesar di Dunia.

Tapi saye tetap semangat untuk menuju desa tersebut, membagi semangat peradaban  prmuda Desa. 1,5 Jam saya bisa sampai ke kantor Desa.

Di Kantor Desa sudah ditunggu sekitar 30 pemuda Desa, dan ada ibu-ibu PKK yang sengaja ingin dengar dialog ini.

Ketika pas waktu saye untuk berbagi pengetahuan,tetang peran pemuda dalam mempertahankan Budaya.

Saya memberi Contoh Dua Bangsa Besar Dunia, China dan Jepang.

"Kalian tau China dan Jepang,".

"Tau bang," kata salah satu peserta.

"Dikampong ini banyak orang Chine Bang, mereke kaye, tapi ade ga yang jadi petani," saya tersenyum dengan jawaban polos anak muda itu, ade ga yang tertawa.

"Maksud saye negara China, bukan orang Chine,  kalau orang Chine belonggo di Ponti, ".

Pesertapon pade ketawa, lumayan slingan...

"Coba angkat HP yang merasa dibuat negara China, ".

Hampir seluruh peserta mengangkatnya, termasuk hp sayapun buatan China.

"Kalau motor buatan negara mane,".

"Jepang bang,"

Nahkan, pasti merk motor yang kite pake Honda, Yamaha, Suzuki.

Dua Negara tersebut menjadi Bangsa Besar, karena menghargai dan mereflekasikan, mengaplikasi kebudayaan leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal satu ras degan kite.

 "Bede Naseb ja kite,".

Same bede semangat etos kerje.

Saye cerite, bahwa saye pengoleksi Novel-novel Karya Sastrawan Jepang Dan China yang merekam kehidupan masa lalu bangsa mereke.

Kalau jepang tidak lepas dari cerita pertarungan antara klan samurai, Ninja  beberapa bukunya seperti Taiko, Musasi, Hidoyashi,  The Young Samurai.

Kalau China tidak terlepas dari budaya kumfu, shaolin seperti bukunya Samko, The Empire Orchid, Sun-Ju , Compunyu, dan masih banyak lagi.

Bangsa mereka hingga saat ini mempertaha nilai-nilai leluhurnya dalam kehidupan modern saat ini, mereka tetap menjadi bangsa besar yang disegani dunia.


"Lantas, apakah bangsa ini tidak punya budaya yang bisa menandingi bangsa-bangsa besar didunia. Termasuk di Desa ini,".

" Pasti ada,".

Saye lewa kampong ini sesekelilingnya kebon karet, pasti tau kan bagaimana nene dato kite noreh karet.

Mereka yang punya kebon karet dua hektar jam satu malam harus sudah turun kekebun, untuk noreh karet. Rata jam empat suboh dan kekebon karet.

Hanya modalkan lampu, alat noreh Datok nenek kite menembus malam, ta duli digigit nyamok, agas, ta takut ama antu binaon.

Itu bagi saye kebudayaan luar biase, kalau mereflikakasikan dalam kehidupan kite sebagai pemuda yang umunya pelajar dan mahasiswa.

Kalau kalian bangon jam satu suboh, buka buku, ngerjakan tugas dengan baek, dilaksanakan secara disiplin seperti yang dilakukan budaya nenek dato kite noreh karet.

"Sudah dipastikan kalian akan menjadi generasi unggul di Desa, di Indonesia bahkan Dunia,".

Itu satu budaye di kampong kite disini, jadi mempertahankan budaye bukan hanye mengadakan event-even kesinian nari, dan festival band ja.

Kesenian cuman salah satu unsur budaye, banyak unsur budaye, ade teknologi, ilmu pengetahuan, ekonomi, agama.

Menarik Desa Sungai Enau di Dominasi Etnis Madura, Dayak, China, Bugis, dan Melayu. Kadesnya orang Bugis. Yang tidak Dominan di Desa ini.

Di Desa ini tidak pernah terjadi komplik Sentimen Etnis, walau di berbagai tempat pernah terjadi komflik di Desa Sungai Enau Aman, karena mereka saling menghargai nilai kebudayaan masing.

"Ini kekuatan luar biasa yang dimilik Desa ini, karena ciri-ciri wilayah maju adalah ketika wilayahnya plural, dan dewasa menghadapi perbedaa,".

Masyarakat Madura dan Bugis yang banyak mengadakan ativitas budaya selamatan atau kenduri, atau di Melayu ada saprahan ini mengandung Palsafah budaya kebersamaan dalam menghadapi kehidupan bermasayarakat. Begitu juga masyarakat China budaya maen barongsai, dan masyarakat dayak dengan musik etniknya yang sangat enak didengar  itu juga punya nilai kebersamaan, mustahil barongsai, mrmain musik bisa dilaksanakan dengan tampa kebersamaan.

Begitu juga kita dalam kehidupan sosial, dunia kerja tampa kebersamaan mustahil tujuan tercapai.

"Sangat agungkan budaya yang kita miliki,".

Jadi, mempertahankan kebudayaan bukan hanya identik berkesenian saja dengan event berbagai Festival tapi mempertahankan kebudayaan tereplikasi di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita menjadi masyarakat yang berbudaya dan berada.

Mari kite aplikasika budaya dato nenek kite dalam berbagai aktivitas, sebagai mafestasi mempertahankan kebudayaan.

Insya Allah Desa ini akan mengalami loncata-loncatan peradaban hang luar biase.





Share this

Related Posts

Previous
Next Post »