Suasana Mahasiswa Pontianak 20 Tahun Lalu Detik-Detik Rezim Orba Jatuh

22.13 Add Comment
Thejaman-Saya mulai tulisan dengan sumpah yang sempat terkenal pada saat marak aksi-aksi menjatuhkaj rezim Soeharto. Hampir semua Demonstran hapal sumpah ini. Bunyinya kira-kira begini. Kami rakyat Indonesia, mengaku: bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Kami rakyat Indonesia bersumpah: Bertanah satu tanah air tanpa penindasan Berbangsa satu bangsa cinta keadilan Berbahasa satu bahasa tanpa kebohongan Saya pada waktu ma masih Semester empat. Sudah aktiv di lembaga pers Mahasiswa Univesitas Tanjungpura Pontianak. Dan masih terlalu muda untuk jadi pimpinan aksi. Walau masih semester empat, mengikuti rapat-rapat aksi baik yang bersifat rahasia, ataupun rapat akbar. Sebagai yunior selalu ditugasi untuk menyiapkan sepanduk dan selembaran. Dalam rapat rahasia semua peserta wajib mengisi absen dan mengumpulkan Kartu Mahasiwa. "Semua KTM harus dikumpulkan, jika tidak ada silahkan keluar, atau kami introgasi," kata salah satu senior. Sebelum rapat dimulai, seperti biasa, helm salah satu mahasiwa jadi korban untuk diearkan mengumpulkan uang untuk amunisi rapat dan amunisi aksi, maklum zaman itu ta ade, donatu aksi..m Beberapa orang keluar, termasuk beberapa mahasiswa yangku kenal. Intelegen aksi selalu berkordinasi dengan peserta rapat. "Ati-ati kawan-kawan aparat banyak di bunderan untan, mereka menggunakan senjata lengkap dan ade beberapa panser," ujar salah satu tim kontra intelejen aksi. Rapatpun makin mencekam, karena jarak tempat rapat kami dengan kumpulan aparat hanya 100 meter. Setelahselesai, saya ditugaskan untuk menyiapkan sepanduk dan pamlet, malam itu juga kami menyiapkan sepanduk. Sebelum aksi di Lakukan di Kantor DPRD Kalbar, para mahasiswa dari beberapa kampus Pontianak melakukan rapat akbar. Ribuan mahasiwa berkumpul didepan Rektorar UNTAN sebagai solidaritas bebeberapa aktivis di Jakarta Benderapun diturunkan menjadi setengah tiang. Dimulai dengan orasi mengutuk rezim Soeharto dari pimpinan aksi dan perwakilan Mahasiswa. Termasuk beberapa Dosen yang memberanikan diri mengutuk ketidak "becusan" rezim ordebaru dalam mengurus negara selama 30 tahun penuh tepresive,nepotisme,koruptif. Setelah orasi selesai, ribuan mahasiswa melakuka longmarch ke Kantor DPRD Provinsi Kalbar. Saya sendiri,merangkap sebagai aktivis persmahasiswa sangat mobile. Sebelum para Mahasiswa sampai ke Gedung Dewan. Saya duluan sampai. Untuk mewawancarai Ketua Dewan. Saya terkejut, gedung Dewan sudah dijaga ratusan aparat berbaju loreng. Saya melapor ke pimpimpinan aparat. "Maaf pak saya mau wawancara ketua Dewan." "Mana identitasmu?,"tanya pimpinan aparat. Setelah memperlihatkan kartu identitas, saya diperbolehkan untuk mewawancarai ketua Dewan. Saya dikawal oleh beberapa aparat untuk masuk keruangan ketua Dewan. Setelah wawancara usai, saya menunggu para mahasiswa di gedung dewan. Tapi mereka tak kunjung hadir. Ternyata mereka dihalau di depan kantor Gubernur Kalbar. Sayapun menuju kesana, barisan mahasiswa sudah terkocar-kacir saling lempar dengan aparat. Aparat menimbakan gas air mata. Dibalas dengan lemparan batu. Setelah pertama kali aksi, hampir kegiatan kampus saya berhari-hari selama beberapa bulan didominasi untuk mengikuti aksi mungkin sekitar tiga bulan. Pada tanggal 20 Mei Puncaknya ribuan mahasiswa Pontianak Turun aksi. Dengan bermacam organisasi aksi, bentrok dengan aparat dibeberapa titik aksi tidak bisa dihindarkan denduman senjata gas air mata dan peluluru karet aparat kedengaran dimana-dimana. Bahkan ada yang luka. Jalan ahmad yani dikuasai oleh para mahasiswa Sampai rektor UNTAN pun ikut turun untuk menangkan aksi menurunkan Rezim Orde Baru. Dia Naik salah satu panser aparat sambil berorasi jangan sampai aksi kekerasan. Sampai sore hingga larut malam mahasiswa tetap bertahan. Sebagai aktivis pers mahasiswa saya harus bolak balik memantau keadaa dilapangan sekalian menulis. Hingga larut malam mahasiswa Pontianak menguasai gedung DPRD Provinsi Kalimantan Barat. Berbagai aktivitas dilakukan di gedung Dewan, dari mulai orasi, nyanyi-nyanyi, diskusi sampai main kartu. Aparat tetap siaga menjaga para mahasiswa termasuk puluhan panser. Saya sepat bertanya, mengapa aparat tidak serepsiv tadi siang. Kadang, ada juga yang ngobrol santai dengan para mahasiswa. Sampai pagi 21 Mei 1998 keadaan cuaca diluar rada mendung. Mahasiswa Pontianak masih menduduki Kantor DPRD Prov Kalbar, pada pukul 09.00 wib tiba-tiba kami di kejutkan dengan akan pidatonya Soeharto. Kebetulah ada TV ukuran 14 inc disiapkan peserta aksi untuk memantau perekembangan di Jakarta. Dilayar Telivisi tiba-tiba Soeharto muncul dan pidato. "Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, kamis 21 Mei 1998." Semua peserta aksi bersalaman,bersorak-sorakan Soeharto telah mengundurkan diri. Mereka bersalaman juga dengan aparat yang sebelumnya bentrok. Bahkan beberapa pentolan aksi dan beberapa mahasiswa dibawa oleh kendaraan panser aparat untuk keliling pusat Kota.

Dikala kita Lengah, SDA Terus Dikuras

21.54 Add Comment
Ikan Jelawat
Jaman-Akhir-akhir ini suasana berbangsa dan bernegara disibukan dengan perdebatan isu politik,kekuasaan yang tidak berkesudahan bahkan saling mendeligitimasi.

Sehingga membuat seluruh elemen bangsa lengah.

Sementara, beberapa negara termasuk negara tetangga bukan hanya menguasai daratan negeri ini. Tetapi, mereka terus memburu indukan berbagai jenis ikan di Sungai Kapuas. Seperti ringau, kalui,jelawat,sumpit,kelabau,belida dll.

Mereka mengiming-ngimingi para Nelayan dengan harga lebih mahal dari pasar, dengan ukuran tertentu.

Lima belas bibit Ikan Kalui (Gurame) Kapuas yamg ku pesan dan panjar sudah ludas mereka jual. Padahal sudah di panjar berat satu ekor ikan kalui 1,5 Kg

Ya mereka ikut hukum pasar waktu mereka jual ke saya satu ekor berat 1,5 kg harga Rp 10.0000,-/Ekor, eh orang Malaysia berani beli Rp 600.000,-/ekor.

Keterkejutan saya bukan masalah perbedaan harga, tapi begitu antusiasnya warga Malaysia membeli berbagai jenis bibit ikan Kapuas yang membuat aku terkejut.

Menemui kejadia ini bukan hanya pada Ikan, tapi pada jenis buah-buahan pernah terjadi beberapa tahun lalu mereka beli buah Durian hanya ambil bijinya. Daging buah suruh diambil pemiliknya atau warga yang mangambilnya.

Jangan harap suatu saat kita bisa dengan mudah mengkonsumsi ikan sungai kapuas, buah-buah hutan karena kelengahan kita sendiri.