MANDAT

22.14
Oleh:Deman Huri

Ilustrasi prilaku pejabat. Cartunis:Zul


Ketika Tuhan ingin menciptakan manusia, Tuhan berdialog dengan Malaikat dan Iblis, “Hai Malaikat dan Iblis saya akan menciptakan manusia sebagai penghuni bumi,”Kata Tuhan.

Malaikat menjawab,”Jangan Tuhan manusia yang engkau akan ciptakan pasti  akan membuat kerusakan dan saling berperang dimuka bumi, mereka pasti akan menumbahkan darah sesama mereka,dan mereka juga akan membuat kerusakan, mereka tidak akan melaksanakan mandatmu Tuhan,”.

Begitu juga Iblis menolak mentah-mentah rencana Tuhan.

“Saya lebih mengetahui dari kamu,”Kata Tuhan kepada Malaikat dan Iblis,
Malaikat mengerti apa yang dijelaskan Tuhan, namun, Iblis tetap menolak atas rencana Tuhan yang akan memberi mandat pada mahluk barunya manusia, sebagai penjaga bumi.

Iblis  pada awalnya merupakan sebagai pecinta sejati Tuhan,tapi pada akhirnya harus berpisah dan  menjadi pembangkang utama terhadap ajaran Tuhan , karena Tuhan telah menciptakan Manusia, yang dianggap akan menjadi pesaing iblis.  Sampai-sampai  Iblis mengatakan “Saya akan tetap menggoda dan mengajak manusia mengikuti ajaranku sampai akhir zama”.

Manusia yang diciptakan Tuhan pun, yaitu Adam dan Hawa dikeluarkan oleh Tuhan dari tempat tinggalnya Surga, karena melanggar kebijakan Tuhan maka manusiapun di mandatkan untuk tinggal di Bumi.

Turun temurun tinggal di Bumi, tidak serta merta keturunan Adam semuanya mengikuti  perintah Tuhan. Benarnya juga atas anggapan Malaikat bahwa manusia akan menjadi perusak bumi dan saling berperang sesame mereka.

Karena manusia lebih  banyak mengikuti ajakan jalan Iblis,daripada ajaran Tuhan, Sampai-sampai Tuhan harus  menurunkan orang suci yang disebut Nabi dan  Rasul  setiap generasinya, untuk menyelamatkan Manusia agar  manusia yang diciptakan Tuhan tidak mengikuti jejak iblis.

Tuhan juga menurunkan petunjuk, yang disebut-kitab-kitab suci,sebagai petunjuk untuk melawan ajaran sesat Iblis. Konon Malaikatpun memata-matai apa yang dilakukan oleh Manusia setiap harinya.

Tapi sebagian Manusia tidak memperdulikan itu semuanya, mereka lebih asik mengikuti jejak iblis.

Sebenarnya untuk memanispetasikan Mandat Tuhan,  Manusia, sebagai tanda kesetianya  hampir setiap hari manusia bersumpah setia kepada Tuhan.

Kalau dalam ajaran Islam, sumpah sedianya berisi, Aku hadapkan wajahku kepada Allah yang menjadikan langit dan bumi, dengan keadaan suci lagi berserah diri; dan aku bukanlah dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku hanya semata-mata bagi Allah, Tuhan Semesta alam. Tidak ada sekutu baginya, demikian akau diperintahkan, dan aku adalah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berserah diri.Sumpah ini minimal dibaca lima kali dalam sehari semalam.

Penganut agama lain juga pasti melakukan sumpah setianya terhadap Tuhanya masing-masing untuk melaksanakan ajaranya,minimal seminggu sekali.

Tapi, setelah  keluar dari tepat persumpahanya,  beberapa  menusia mengingkari apa yang bacakan dalam sumpah setianya terhadap ajaran Tuhan, hampir-hampir tidak meninggalkan jejak nilai nilai sumpah pada aktivitas sehari-harinya, mereka lebih asik mengikuti jejak IBLIS.
……………………………………………..
Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei) pepatah latin yang  popular pada saat masa pencerahan dan kebangkitan Erofa  karena kekuatan rakyat mampu melawan hegemoni penguasa otoriter pada saat itu dan  pada era demokrasi suara rakyat  merupakan repsentatif suara terbanyak pada saat pemilu sebagai pemenangnya.

Sehingga sebagai representative untuk jadi penguasa barupun harus dipilih oleh rakyat, dan ketika dilantikpun ketika menjadi penguasa baru harus bersumpah atas nama Tuhan dan Rakyat dengan simbol Kitab Suci masing-masing agamanya sebagai salah satu saksi”Saya bersupah demi Tuhan yang Maha Esa dan Rakyat………dan ideologi Negara,kalau Indonesia pastinya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.  Sebagai manepestasi mandat dari rakyat. Begitulah bunyi sumpah para pejabat yang katanya dipilih oleh Rakyat .

Tapi mereka untuk mendapatkan mandat dari rakyat memang tidak gratis, rakyat akan memeberikan mandatnya tidak gratis ada istilah one man one vote,one vote one dolar
Yang artinya satu orang satu satu suara,satu suara satu dolar tentunya ini bukan sekedar istilahnya….mandat yang didapatkan   karena uang, tentunya tidak gratis. Mereka pasti disokong para pemodal yang memiliki uang lebih.

Sehingga setelah mereka bersumpah atas nama Tuhan agamanya masing-masing, atas nama nama Negara,atas nama rakyat. Itu hanya selongan belaka, hanya dikata-kata pada saat diambil sumpahnya, setelah itu penguasa tidak pati akan mengikuti mandat rakyat,mereka lebih suka mengikuti suara siapa yang menjadi pemodal. Aparat penegak hukupun sebagai diajak bersekutu untuk mengingkari mandate rakyat.

Pastinya itu, akan terbangung, prilaku palsu dalam melaksanakan  sebuah mandat, realita menajadi sebuah kesadaran yang bersifat patamorgana yang sangat imaginer sehingga memuculkan Abivalenisme.

Kalau meminjam Kata-kata Yasraf A. Piliang, telah terjadi ironi politik, yang memproduksi berbagai bentuk ambivalensi,kontradiksi, dan pradoks didalam politik yang menggiring pada dualism dalam setiap tindakan,sikap,cara berpikir, gaya hidup, dan gaya hidup masyarakat politik, meskipun semunya diterima secara tidak kritis(atau secara tanpa moral)  dari dunia atau strategi Politik.

Abivalanisme menyebabkan, hilangnya idetitas diri sebagai inkonsitensi terhadap mandat yang diberikanya. Betapa pentingnya kita memegang teguh sebuah mandat,Mandat Tuhan,Mandat Rakyat juga mandat alam merupakan menapestasi terhadap sumpah  sedia dalam melaksanakan sebuah madat.

Hideyoshi tokoh samurai Jepang dalam novel Taiko yang ditulis oleh Eiji Yoshikawa menjeleng abad ke 16, Hideyoshi mampu menyatukan Jepang yang cerai berai oleh klan-kalan Samurai. petumpahan darah dimana-mana antar  kelompok samurai.

Semangat memegang mandatnya dia mulai jadi petani seorang petani miskin ia memengang mandat dari  ayahnya untuk merawat ibu dan adiknya,sampai mejadi pemimpin di negeri Jepang pada zamanya

Dia menjadi tokoh inspiratif terkini di Jepang,mampu membangun dedikasi bangsa Jepang yang kompetitif. ia meninggalkan warisan yang sampai sekarang tetap dikenang sebagai Zaman Keemasan. Demi memengan mandat sebagai pemimpin Hideyoshi mampu membalik setiap kesulitan menjadi keuntungan baginya, bahwa ia sanggup membujuk setiap musuh untuk menjadi sahabat[1].









 




[1] .Novel Taiko,Penulis Eiji Yoshikawa Buku Sepuluh tahun Tensho  kesebelas 1583

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »