Hanya Satu Tanda Batas Menuju Perbatasan

18.30
Tanda batas Malaysia-Indonesia. Photo:Man

TJ-Aku melalui penataan Post TNI di Kecamatan Jagoibabang. Hanya satu tentara yang berjaga disekitar jalan. Tentara lainya berada dimarkasnya.

Dia sambil megang hp mempersilahkan kami untuk menuju keperbatasan Malaysia tampa ada pemeriksaan terhadap kendaraan yang kami gunakan.

Aroma menuju keperbatasan jagoi tidak tercium karena kiri kanan jalan berhutan dan jalan-jalan berlobang seperti mau masuk keperlampung tanpa huni.

"Ini sengaja dibiarkan berhutan. Mungkin untuk zona perang ketika akan ada pertempuran dengan tetangga,"kata saya.

Tapi kenapa jalan rusak jika mau digunakan zona tempur. Bagaimana cara memobilisasi pasukan kalau jalan rusak.

Kami melihat jalan-jalan menuju berkelok-kelok beraspal tapi tidak berfungsi. Sepertinya ini mal project,

Begitu juga pasar rakyat yang setahun lalu saya melewati jalan ini bentuk sama tidak dicat tidak berpenghuni.

"Ini pasar pastinya yang buat adalah orang pusat ma'lum program perbatasan lebih banyak dilakukan oleh pusat,"kata saya pada teman-teman satu mobil.

Tiang listrik sutet menjulang yang sudah ada kabel menuju kepernatasan. Karena PLN Indonesia beli listrik ke Malaysia.

Saya sampai ke Perbatasan Kagok hanya ada satu warung kopi tang juga menjual kebutuhan poko yang umumnya produk Malaysia.

Penjagaan tidak begitu ketat. Saya melihat sebuah tiang bertuliskan Indonesia dan sebelahnya bertuliskan Malaysia. Itulah pembatas Malaysia-Indonesia.

Teman-teman pada heboh berphoto pada tiang yang bertuliskan Mslaysia-Indonesia.

Tanda bukan hanya tiang itu tetapi ada tanda lain. Besi berbentuk prisma panjang satu meter dan batu bertuliskan haram antar batas.

Saya masuk ke Zero Zona dimana setiap perbatasan menurut hukum internasional sekitar 100 meter zona internasional siapapu boleh masuk tanpa paspor.

Saya masuk wilayah tersebut melihat kiri-kanan ada tiga rumah tradisional milik warga setempat dan satu tokoh yang lebih besar dibandingkan dengan di Indonesia.

Teman saya, Syamsuri menujukan Sungai perbatasan wilayah Malaysia-Indonesia selain satu tiang.

Air bersih mengalir di sungai tersebut. "Itu pos penjaga tentara Malaysia. Kalau sore seneiper mereka siap siaga dengan senjata, maka kita kita dilarang sore-sore berada disini,"kata Syamsuri.

Memang benar, saya melihat diatas bukit ada bendera Malaysia dan bangunan khas militer berwarna hijau.

Setelah selesai melihat sungai sebagai pembatas negeri. Saya menuju ke wilayah Indonesia.

Dan menuju ke warung kopi, saya langsung melihat-melihat produk diwarung tersebut 80 persen produk Malaysia.

Teman-teman pada belanja produk kebutuhan rumah tangga seperti susu,sabun,minuman, dan lain-lain.

"Disini bisa menggunakan mata uang  ringgit atau rupiah,"kata pemilik tokoh.

Kami menggunakan rupiah untuk berbelanja.

"Nanti kalau datang lagi, bawa uang yang banyak ya, biar belanjaan banyak,"kata pemilik warung sambil tersenyum. Dhg

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »