Orang Kampung Menggunakan Sinyal Satelit Bocor

16.15
Sampai di lokasi radio komunitas yang dikelola oleh pemuda yang umumnya hanya lulusan SMA, melihat fasilitas yang digunakan merupakan hasil kreativitas mereka di desa untuk memberi hiburan dan informasi ke orang desa.

Saya mendengar sayup-sayup suara iklan mari menam pohon, dari sebuah institusi pemerintah di sektor kehutanan. Dan iklan yang menyarakan masyarakat segera membayar pajak, karena dengan pajak pemerintah bisa melakukan pembangunan serta kampanye dua anak keluaraga bahagia.

Di daerah yang black spot (0) frekuensi informasi tevi dan radio, lembaga pemerintah bisa melakukan kampanye dan penyadaran kepada masyarakat desa yang tidak terakses, atas inisiatif pemuda-pemuda kampung yang kreatif, bisa berbagi informasi.

Sekilas melihat peralatanya sangat sederhana, mixernya merupakan hasil kreasi Alonk. Yang mengakunya sejak SD tidak mau menamatkan sekolahnya. Walau tidak sekolah dia tidak berhenti belajar, dia selalu belajar otoditak, sampai dia mampu membuat mixer dan memodifikasi sesuai kebutuhanya.

Termasuk membuat alat pemacar radio berfrekuensi AM, konon selain sampai di sekitar kampung tersebut, kadang siaran radionya sampai keluar negeri yaitu Malaysia, India, Jepang bahkan Belanda. Karena ada yang mengontaknya.

“Tapi kalau sekarang sih bisa kemana-mana, karena sudah saya buatkan streaming, melalui internet” kata Alonk bangganya.

Saya maseh belom percaya bahwa Alonk tidak lulus SD, saya bertanya lagi,”Benar Long, ente ta lulus SD?” tanya saya berkali.

“Ta caya akang neh, tanyalah ke bang Awang.” jawab Alonk, sambil mengoprek labtop saya karena dianggap software banyak yang tidak ada, padahal sangat penting software tersebut.

“Kang caya tada, saye berinternetan ta pernah bayar lo walau di kampong, berape giga ja felam bisa saya download,” katanya sambil memperlihatkan modemnya.

“Mane caya Lonk saye, dari manenya ente bisa begitu Lonk?” ucap saya.

“Ah, si akang neh ta caya teros same saye neh, liat neh kan ta ade pulsanya kan modemnya, neh saye cobe downlod, bisa kan kang,” Alonk memperlihatkan ke saya hasil dowloandnya.

Alonk menjelaskan ke saya prinsip kerjanya, dan apa yang dilakukanya bukan merupakan pencurian tetapi merupakan frekuensi dan sinyal satelit yang tidak dimanfaatkan. Kita bisa menggunakan kode-kode ini, masukan saja kode-kode ini ke dalam sistem kerja di modem.

Saya tidak mengerti dengan kode-kode yang diperlihatkanya, saya hanya bisa berkata.
 “Kau sungguh jenius Lonk,” kata saya sambil ngarok-ngarok kepala.

Saya  tertengun, luar biasa pemuda kampung yang mengaku tidak tamat SD bukan karena tidak mampu, tetapi memang tidak mau sekolah. Dia  belajar otoditak berbagai ilmu yang berkaitan dengan dunia IT.

“Ah dimana Alonk belajar neh, ko bisa lonk, saye yang kuliah tinggal di kote ja ta sepintar ente?” tanya saya.

“Ta ade kang, saye belajar otodidak, hoby buka-buka internet, saya belajar di sana kang.”
“Neh liat, tiga komputer PC saya merakit sendiri kalau akang ta caya, khusus digunakan untuk editing felam, kalau beli mahal kang.”cerita Alonk.

Alonk selain punya hoby di bidang IT, juga mempunyai hoby membuat felam lokal. Dia mempunyai studio mini khusus untuk editing. Sudah dua felam yang diproduksinya dan laku sekitar dua puluh ribu keping CD, dijual hingga ke Malaysia dan Brunai karena isinya tentang sekitar tradisi Melayu.
Tiba-tiba datang Cu Awang pamanya Alonk, anak yang cukup ceria dan suaranya mono.

"Aduh kang, maaf telat neh. Ade acara beh kame tadi kote, make telat nemuin akang, maaf ye kang, kite langsung produksi ja kang ye." kata Awang sambil salaman.

"Cu Awang, benarkah Alonk ta lulus SD, kok bisa pintar gitu?" tanya saya.
"Iya kang, anak tuh tak lulus SD, dia ta mao sekolah, tapi dia belajar tolen, make pintar biak tuh." jawab Cu Awang.

Lain Alonk, lain Andika. Andika Anak kampung mampu membuat pesawat tanpa awak, tunggu ja cerite selanjutnya. Man

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »