Mewujudkan Pembangunan Hijau

21.08
Pembangungan berbasikan hijau (green),mulai populer pada saat masuk abad ke-20 dimana era industri dan ekplotasi sumber daya alam secara besar-besaran dilakuakan didunia, dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia.

Dengan ditemukanya berbagai jenis alat yang sangat canggih dalam mengekplotasi sumber daya alam,maka sumber daya alampun dieksplotasi secara besar-besaran  tampa memperhatikan kaidah-kaidah dampak dari lingkungan yang akan dirasakan oleh manusia.

Makin hari, dampak kerusakan alam telah dirasakan oleh semua penghuni bumi ,seperti banjir,krisis air ,berubahnya iklim,munculnya berbagai jenis penyakit dan berbagai macam bencana lainya.

Menyadari kerusakan alam makin rusak diseluruh dunia,maka masyarakat dunia menawarkan berbagai konsep  pembangunan yang diklaim ramah lingkungan. Salah satu konsep yang ditawarkan adalah konsep pembangunan yang ramah lingkungan yang lebih dikenal dengan konsep green(hijau).

Berbagai macam program pembangun selalu diklaim dan didentikan  dengan konsep green, seperti green city,green economic,green bugeting,green village,green water,green energy,green politic,green energy,dimana semuanya  konsep tersebut bermuara pada konsep pembangunan yang  ramah lingkungan.

Bahkan,konsep green oleh sebagai industri dijadikan salah satu brainding,dimana agar produk yang dihasilkan laku dipasaran.

Munculnya konsep green dalam berbagai dimensi kehidupan tidak terlepas dari terbangunya  kesadaran masyarakat akan pentingnya segalah dimensi kehidupan seluruh dimensi kehidupan harus harmonis dengan  alam.

Memang, terbangunya kesadaran masyarakat internasional merupakan sebuah peluang dalam melaksanakan konsep pembangunan hijau,namun perbedaan mazhab dalam  pembanggunan dan pengelolaan sumber daya alam merupakan ancaman sendiri dalam menghambat mewujudkan konsep pembangunan green.


Ada dua perbedaan mendasar pemikiran dalam melihat konsep pembangunan dan konsep pengelolaan sumber daya alam yang harus diekplotasi untuk memenuhi kepentingan masyarakat,pertama alam adalah hanya sebuah materi ruang kosong,maka harus di ekplotasi untuk memenuhi kebutuhan manusia,kedua:alam merupakan ruang transedental dimana satu sama lain saling terdapat keterkaitan bahkan dengan alam lain,jadi tidak boleh sembarangan dalam dalam mengelola sumber daya alam.

Ketika dalam melihat konsep alam merupakan konsep materi saja,tidak pelak, semua yang terdapat dalam unsur alam dianggap merupakan sumber daya bernilai ekonomis tinggi yang harus dieksplotasi secara berlebihan tampa melihat elemen lain yang akan mempengaruhi keseimbangan alam.

Sehinggan,walaupun berbagai  kebijakan telah dibuatnya  seperti kebijakan internasional,nasional,lokal dimana dalam mengekplotasi sumber daya alam harus sesuai dengan kebijakan-kebijakan hukum ramah lingkungan yang telah ditetapkan. Namun, tetap saja perusakan lingkungan tetap terjadi terus menerus.


Karena antara kebijakan yang dibuat dalam pelaksanaanya  mengalami dikotomi dalam pelaksanaanya dan saling bertolak belakang satu lainya. Intrumen yang dibuat dalam mewujudkan pembangunan dengan menerapkan prinsif-prinsif ramah lingkungan saling bertolak belakang.

Sebagai contoh adalah pelaksanaan penyelamatan kawasan hutan dengan konsep REDD+ dimana salah satu konsep penyelamatan kawasan hutan tampa menebang pohonya,cukup menjual udaranya saja. Namun,pelaksanaanya hingga kini skema tersebut tidak dapat dilaksanakan karena masih terjadi perdebatan nasional dan internasional yang tidak berkesudahan hinggga sekarang.

Disorientasi pembambangunan hijau (green) disebabkan karena kepentingan ekonomi yang berorientasi mengekplotasi sumber daya alam berlebihan tampa memperhatikan kaidah-kaidah kelestarian alam. Kepentingan ekonomi masih dilihat sebagai dikotomi yang berbeda sehingga dianggak momok yang mehalagi mewujudkan pembagunan hijau( green)..

Ada lima faktor yang harus dilakukan dalam  dalam mewujudkan program pembangunan green(hijau).petama:kebijakan,kedua:perencanaan,ketiga:bugetting,keempat:penegakan hukum,kelima:sumber daya manusia.

Kelima faktor tersebut harus menjadi parameter dalam mendorong penerapan konsep pembangunan hijau (green),pelaksanaan konsep green tidak bisa berdiri sendiri satu sama lainya. Semua faktor harus dijadikan orientasi pembangunan berbasikan yang ramah lingkungan.


Orientasi pembangunan hijau harus beorientasi menyelamatkan lingkungan yang memperhatikan komponen lainya yang berada disekitarnya,karena lingkugan merupakan sebuah sistem yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainya. Jika salah satu sitem rusak maka akan mempergaruhi sistem lainya. (Deman Huri)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »