Ladang Amal, Ta apelah Sediket Haram

16.39
Suci baru saja tuntas mengikuti tes seleksi jadi pejabat, dia sebenarnya calon pengamat perbintangan dan dosen. Tapi  tidak tahu mengapa dia lebih suka terjun ke dunia politik yang penuh instrik.

Mungkin ini yang dikatakan oleh kawan saya, bahwa negeri ini lagi bermunculan kelas menengah, intelektual galau, tidak percaya dengan kemampuan dan tidak diberi ruang oleh penguasa. Ini boom waktu, suatu saat meledak kelas menengah galau menggugat.

Dan cukup bahaya, ketika intelektual galau melampau batas di negeri ini, kata teman yang duduk satu meja di warkop Hijaz.

Disini di warkop Hijaz, Megawati dan anaknya Pak Beye yang pernah ngopi. Sekarang ada beberapa anak-anak muda kelas menengah galau yang sedang berkumpul dari berbagai keahlian hukum, kehutanan, politik, bahasa, agama, aostronomi dan belukar pemula.

Tidak lama Suci dan dan Adil ikot bergabong.

“Sukses beb dah masuk sepuluh besa, bisa mengalahkan orang-orang berpengalaman,” saya langsung mendahului obrolan, sambil meminum segelas kopi hitam pekat.

“Ape pula sukses kang, belom ja beres, masih lobi-lobi panjang,” kata Suci.

“Bantulah kame neh lobi-lobi biar bisa lolos lima besa, kaliankan punya akses di berbagai kalangan.”
Warkop ini memang cukup rame, dari kalangan ABG ampe pejabat nongkrong di sini. Sekedar untuk sarapan, tampang Annas Urbaningrum, Ibas, Megawati dan beberapa pejabat yang pernah ngopi di warung ini, berjejer photonya diding.

“Mane bisa beb, dia tuh  ta mau, kalau mau dan jaman-jaman, dia tuh sufi.” kata Adil kawanya Suci. 
“Kau serahkan ke Tuhan ja beb, karena kontalasi politiknya tinggi, medan pertarunganya kuat, kau bayangkan dua orang yang ahli di bidangnya bisa ga gugur di babak ke dua.”

“Tapi aku yakin jadilah, apa lagi kalau kita-kita bantu lobi-lobi.” kata Suci sambil makan Cake We, makanan khas China dan teh hangat.

“Iya beb, jadikan ladang amal ja, kalau ente jadi haram siketpon ta apelah yang penting buat umat.”
Adil yang seorang lawyer, nyindirnya cukop halus, kamipon tersenyum sambil merenung-renung  makna yang disampaikan oleh Adil.

“Kau pandai Dil nendang orang, biase di Indonesia kaya begitu, haram sediket biase yang penting untok amal, tenang ja kalau saya jadi, pasti ta akan banyak yang haram akan saye kerjakan.” kata Suci.

“Iyekeh, kalau begitu anna aminkan lah ente jadi yang ente harapkan, tapi tetaplah mejelang puase dan belebaran anna mohon petunjuk ke ente, karena ente yang punya ilmunya, dan anna kenal ke ente seorangan ulama.” ucap saya. (Deman)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »