Ipin-Upin dan Boy-Boy Sebuah Hegemoni

02.59
Ilustrasi gambar dampak sebuah hegemoni, Zul.Ms
Niat menulis tentang keberhasilan Hegemoni (Penguasaan diluar alam sadar) Malaysia terhadap rakyat Indonesia sebenarnya sudah lama, kira-kiran empat bulan lalu. Saya menghitung dalam seminggu ada lima orang bergaya tokoh-tokoh kartun Malaysia, Ipin-Upin, dan Boboy.
“Yee...yee dapat oleh-oleh....”kata salah satu keponakan saya. Dia melanjutkan gaya seperti di film kartun Ipin-Upin, lumayan dapat sege-dua ege...

Terus saya bermai-main lagi dengan keponakan. “Awas kau, nanti aku ikat kau,”sambil mengeraskan suaranya bergaya seperti pendekar-pendekar di film kartun Boboy buatan Malaysia.

Yang buat saya terkejut adalah, ketika saya jalan-jalan ke pesisir laut China Selatan masih masuk wilayah Indonesia ada sebuah Kampung ditengah hutan mangrove, anak-anaknya lebih mengenal tokoh kartun Malayasia seperti Boboy Api, Boboy Tanah, Ipin-Upin, Cek Gu, Mael, Jarjit, Kak Ros, Atok dll.

Saya bertanya kepada dua orang anak, umurnya kira-kira tiga tahun, yang pertama namanya Nisa, yang kedua namanya Glen.
“Nisa kalau besar cita-citanya mau jadi apa..?”
Nisa menjawab, saya mau jadi Cek Gu...
Selanjutnya saya bertanya pada Glen...
Glen cita-citanya kalau besar mau jadi apa...
Glen menjawab, mau menjadi Boboy Api, sambil memperagakan gaya Boboy Api.
Dua tokoh serial kartun buatan Malaysia ternyata bukan tokoh-tokoh yang ada di film-film di Indonesia seperti Ganteng-ganteng Srigala, atau Manusia Harimau, atau tokoh-tokoh pewayang Jawa seperti gatot kaca.

Kami tanya malah mereka tidak tahu, atau mereka lupa, karena film yang mereka tonton yang tertanam dalam hati adalah film kartun Malaysia seperti Boboy dan Ipin-Upin.

Disadari atau tidak, bahwa penguasaan Kebudayaan dilakukan Malaysia sudah menyusup keanak-anak Indonesia, mungkin hampir seratus persen anak-anak Indonesia saat ini kalau disuruh mencontoh gaya Boboy dan Ipin-Upin pasti mereka bisa.

Melihat strategi hegemoni Kebudayaan Malaysia menurut saya sangat cerdas dan luar biasa, karena mampu menyusup keanak-anak tampa disadari.
Ini yang dikatakan Antonio Gramsci ilmuan Filsup kelahiran Italias, bahwa Hegemoni lebih berbahaya dari perang Nuklir.

Karena Hegemoni Kebudayaan bisa bermetamorfosis pada sebuah peradaban yang terjadi turun-temurun. Seperti hegemoni yang telah dilakukan oleh negara tetangga kita Malaysia.


...................................................................
Kebetulan saya ke pesisir laut China Selatan bersama beberapa teman, salah satunya calon serjana Santra dan Budaya Indonesia, saya katankan pada dia, ini panen ilmuan Malayasia selama bertahun-tahun riset tentang ke Indonesia, terutam tentang khasana ke Malyuan di Nusantara.

Dia menjawab, iya dulu saya sering menemani para ilmuan Malaysia yang sering riset ke Kalbar, khusunya ke Sekadau.

Saya menjelaskan lagi kepada teman tersebut, untuk menguasain sebuah wilayah atau bangsa yang diutus adalah ilmuan kebudayaan, sosiolog dan antropolog.

“Setelah mereka mengumpulkan semua informasi itu, baru mereka membuat rumusan untuk mellakukan hegemooni kesebuah wilayah,”terang Saya.

Calon serjana tersebut baru sadar bahwa strategi kebudayaan negara tetangga kita lebih baik dari negara Indonesia.

“Mungkin kita tidak mempunyai strategi hegemoni kebudayaan, sehingga anak-anak kita berhasil dihegemoni oleh negara sahabat kebudayaanya,”katanya.


Saya rasa memang seperti itu, kita mungkin tidak punya strategi kebudayaan yang matang dalam menghegemoni kebudayaan Nasional apalagi internasional. (Deman Huri)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »