Halusinasi Perubahan

21.02
Pasca pemilihan presiden republik Indonesia, perdebatan baik ruang publik maupun di ruang pemberitaan masih terjadi antar dua kelompok pendukun pemenang presiden terpilih Ir. Joko Widodo, maupun pendukung calon presiden yang tidak terpilih Prabowo Subianto.

Pertarungan wacana tentang masa depan negeri terus bergulir di ruang publik maupun diruang pemberitaan. Mediapun yang sudah mengalami segmentasi dukungan pada kedua calon yang telah mengiring kedua pendukung supaya meperkuat dukunganya pada dua kelompok walaupun pilpres sudah lama berlalu.

Jelas pengiring media terhadap kedua kekuatan membuat para pendukung berhalusinasi dalam membangun sebuah perubahan dinegeri ini. Karena kadang pemberitaan yang disampaikanpun jauh dari realita yang sebenarnya.

Realita semu tampa fakta telah mendorong para pendukung untuk melakukan delegitimasi diantara kekuatan dengan dasar bahwa apapun yang dilakukan oleh kedua pihak selalu dianggap salah, sehingga satu sama lainnya saling mendeligitimasikan.

Pertarungan wacana dalam membangun perubahan yang disampaikan sebenarnya sangat miskin dengan data dan fakta oleh kedua kelompok. Semua hanya didasarkan pada ketidak sukaan satu sama lainya.

Mengandalkan emosi  dalam pertarungan wacana membuat kalap serba irasional. Argumen - argumen yang disampaikan kepublik hanya untuk meligitimasi dan pencitraan sebuah perubahaan yang dicita-citakan.

Permasalahan mendasar juga terjadi bukan hanya pada tingkatan masyarakat awam, namun terjadi pada Dewan Perwakilan Rakyat saling medeligitimasikan terjadi.

Saling mendeligitimasikan satu sama lainya diruang publik nyata ataupun dimedia sosial terjadi sehinga mendorong kekerasan makna dan kata yang kadang tidak beretika satu sama lain, dengan tersendiri akan bermetamorfosis menjadi  kekerasan verbal.

Ada pepatah mengatakan lidahmu lebih tajam dari mata pedang,itu ada benarnya karena kekerasan kata  akan menimbulkan kekerarasan lain dalam bentuk verbal di mana disorientasi pada cita-cita awal  yaitu perbaikan bangsa dan negara.

Pertarungan wacana diruang publik hanya menimbulkan sentiment negative yang tidak berkesudahan.

Kita sudah melihat bagaimana wacana-wancan kesejahteraan dalam menaikan bahan bakar minyak oleh pemerintahan yang sedang berkuasa telah memakan “korban” dua nenek karena pencairan kartu sakti, satu lagi meninggalnya demonstran karena menolak kenaik BBM dan kebijakan pemerintah.

Jelaskan, pertarung wacana kata-kata telah mengarah pada kekerarasan verbal yang terjadi dibeberpa tempat. Karena relasi sosial yang dibangunpun terjadi missing link satu sama lainya.

Maraknya media sosial membuat padangan masyarakat terhadap perubahan Indonesia cukup berpariasi, baik perubahan structural maupun perubahan cultural dimasyarakat.

Perubahan yang terjadi baik di struktur dan cultural masyarakat belum terjadi secara signifikan, karena model perubahan yang dibangun dengam  cara komunikasi yang kurang baik telah menyebabkan terjadi dis orientasi perubahan karena tidak mendapat dukungan dari publik secara massif.

Perubahan prograsif perlu dukungan publik secara secara massif, sitematik dengan perencanaan yang baik sehingga berbabagai resiko sebagai konsekuensi dari perubahan bisa diantisipasi dengan baik.

Menarik setelah lebih 100 hari presiden Jokowi menjadi presiden perdebatan perubahan bangsa bukan malah berhenti namun, makin meningkat,saling mendeligitimasi  , bahkan sampai sampai antar dua lembaga negara anatara KPK dan Polri antar partai.

Tentunyata, ini merupakan salah kasus yang merupakan representasi tentang pertarungan wacana yang bermetamorfosis pada pertarungan antara lembaga yang mengarah pada pertarungan verbal. Tentunya,ini sangat merugikan perjalanan perbaikan kehidupan berkembangsaan.

Krisis ini tidak bisah dianggap remeh, karena bagi saya ini merupakan kerisi mencapai pada level yang cukup berbahaya dan kedepanya akan menyebabkan ketidak stabilan sosial berkepanjangan.

Sebenarnya, sebuah harapan besar ketika Jokowi menjadi presiden. Namun, pemerintahan Jokowi  disibukan mulai dari penentuan kementerian yang penuh tawar-menawar secara politis, kenaikan dan penurunan BBM yang tidak terukur sehingga harus diturunkan kembali, pemberhentian Kapolri dan pemilihan Kapolri baru serta konflik antara Polri dan KPK, Pemboman kapal asing yang tidak memiliki dampak signifikan  terhadap kesejahteraan Nelayan, pemblokiran website

Pengalaman menulis berdiskusi dengan tiga menteri kabinet kerja, sepertinya berbagai program yang ditawarkanpun masih menggunakan kacamata Jakarta. Sangat pesimis apa yang dicita-citakan dalam nawacitanya JKW akan tercapai.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sulitnya tercapai visi dan misi kepepinan  adalah pertama: internalisasi kelembagaan yang berkurang, kedua: kepentingan politik yang cukup besar, ketiga:lemahnya penguasaan isu-isu kerakyatan, keempat:lebih focus pencitraan daripada facus kerja, kelima:dukungn kolikti rakyat dan parlemen yang kurang.

Sehingga perubahan struktural dan kultural belum dirasakan oleh semua pihak. Bahkan sebagian  dari publik antipati dengan perubahan yang ditawarkan. Bukanya mendukung, malah mencaci maki. Ini problematika  tersendiri sendiri.

Dari fakta kebutuhan dasar warga harganya mengalami ketidak setabilan dan relative  mengalami kenaikan yang menjadi beban masyarakat.


Hal yang mendasar harus dilakukan oleh presiden adalah melakukan konsolidasi kekuatan rakyat di internal dan ekternal . Dan harus berani melawan tekanan-tekanan internal yang menghambat perubahan dalam rangka mensejahterakan rakyat. (Deman Huri)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »