Akay Cincin 3M

00.24




Minggu pagi biasanya kami ngopi,kebetulan hari minggu itu saya ngopi bersama seniman tersembunyi dibumi khatulistiwa. Karena dia seorang penulis produktif tapi tidak mau dikenal publik. Hampir setiap hari dia meproduksi karya seninya sterutama  puisi.

Diwarkop merapi kami hanya membahas tentang kekuatan nilai-nilai spirtual sastra. Sambil mememinum segelas kopi hitam sedikit gula.

“Pak puisi bapak itu sangat kuat nilai spiritualnya,sudah saatnya dipublish kepublik,”kata saya
.

“Janganlah hanya dinikmati sendiri karya sastramu itu,publik harus mendapat siraman-siraman spiritual dari karya bapak,”lanjut saya paka Pak Fir.

Pak Fir hanya senyum-senyum mendengarkan sara saya, saja sambil menghisap roko favoritnya.

Hampir setengah gelas kopi kami habis,sementara sebelah meja kami sepertinya membicarakan tentang pengkebangan bisnisnya. Karena menggunakan bahasa Chines saya samar-samar mengerti.

Warung kopi pada hari minggu cukup ramai,mobil-mobilpun yang digunakan sangat berkelas dari mulai harga ratusan juta sampai diatas tiga belas meliar. Walaupun warung kopinya hanya didalam gang.

Sedang-sedang asiknya ngopi kami dikejutkan,”Assalamu’alaikum.wr.wb”. Saya menoleh kebelakang..”Wa’alaikumusalam,”sahut saya.

“Kau man pagi-pagi dah disini,dah berubah profesikah,”kata Ropi,dia adalah kawan saya seorang dosen yang telah menjadi pejabat publik yang berkaiatan dengan dunia politik.

Ya buat terkejut saya,dia membawa dua kawanya yang telah menjadi pejabat ditingkat pusat dan pasti sebagian rakyat indonesia mengenalnya,karena hampir setiap hari beliau masuk Tevi. Satu lagi pejabat ditingkat Kabupaten.

“Biaselah bang hari minggu dan saye biase di warkop ini,”kate saya

“Sile-sile dudok bang,”lanjut saya,kebetulan kursi-kursi di warkop itu lagi penuh maka mereka bergabung dimeja kami.

“Ini bang salah satu pengerak sosial Kal-Bar,”kata Ropi mengenalkan saya pada kawanya yang telah menjadi pejabat dipusat.

“Ya...saye sih ta usang ama buda neh,saye dan sering bace tulisanya dikoran,ngisi diacara ditevi. Biase ga facebookan,”kata Toha.

“Owh...ya...lah kalau begitu pasti dah saling kenal kalian,”kata Ropi.

“Saye sih pasti kenalah ama abang Toha dia setiap hari masuk tevi,”ujar saya.

Toha merupakan sala satu pejabat negara di Republik ini yang bergerak tentang konstitusi.

Saya angkat tang menghadap ke ma nya pemilik warkop,dia sudah mengerti bahwa kami akan memesan kopi.

Ma nyapon menghampiri kami dan masing-masing diantara mereka memesan kopi dan kue.

“Ape ja kegiatan kau man,malar ja masuk koran terus,?”tanya Ropi.

“Ta ade bang,kami cuman ke ile-ke ulu sambil nulis,yang ta jaoh bergerak disektor komunikasi dan informasi lah,”kata saya.

Tidak berapa lama datang penjaja cincin,topinya berala seniman,hidup mancung,kulit hitam,malum dia keturunan India.

Dia duduk disambing kami sambil memperlihatkan berbagai merk cincinya,berwarna warni,merah,biru,ijau dan putih.

“Bang berape harge cincin yang ini,?”tanya ropi

“Biaselah beraneka ragam hargenya,ade yang lima puluh,seratus,sampai lima ratus ribu,”jawan penjual Cincin.

Toha...mengakat gelas kopi sampi melihatkan cincinya kepenjual cincin. Pasti penjual cincin tahu maksud toha, dia mau memamerkan cincinya.

“Bang berapelah harge cinci neh..?” tanya Toha,pejual cincin diam ta berani jawab. Dia pasti sudah tahu berape harganya.

“Ta tau bang,pasti harganya...jaaaa...uh dari harga cincin yang ana jual bang,”kata penjual cinci.

Kami sambil milih-milih cincin yang cocok kami pakei yang mana,kasihan juga penjual cicin sudah diajak ngobrol cincinya tidak ada yang beli. Sambil mendengar percakapan Toha dengan penjual cincin tentang percincinan.

“Ini cicin batunya Intan bang,harganya cuman 3m ja,”kata Toha.

Sekitika kami terkejut harga cincin yang dipakai Toha ternyata harganya 3m,kami berhenti sejenak meilah-milah cincin tersebut.

Ternyata cicncin yang dijual oleh pejual cincin keliling tidak sebanding dengan cincin Toha.

Keduhung saya sudah megang-megang cincin,saye pun beli salah satu cincin bewarna merah.

“Berape neh beb harge cincinya?,”tanya saya sambil memegang cincin bewarna merah.

“Murah beb,itu sih cuman 50 ribu ja,”jawab penjual cincin.

“25 ribulah beb ya saye beli,”saya menawar.

“Mane bise 25 ribu mane saye dapat untong,punya abang tuh ja 3M.masa 50 ribu ja kau tawar beb,”kata pejual cincin.

“35 ribu ja ya,kau jual kasaye,saye kotan beli cincin neh,sebagai panglaris pagi bang,”ujar saya.

“Iyalah saya lepas harga 35 ribu,asal abang ta malu ama abang samping abang yang satu pake cincin 35 ribu,satu age pake cincin 3m,”canda tukang cincin.

Sayepun mengambil cincin,langsung saya pakai cincinya

Share this

Related Posts

First